Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.

Sunday, July 27, 2008

Inilah "Blue Energy" Sesungguhnya



Oleh Awang Riyadi

Lautan Energi
energiterbarukan.net - Ditengah permasalahan energi di Indonesia, “blue energy” yang dikembangkan Joko Suprapto menjadi harapan sebagai solusi alternatif. Konon blue energy berasal dari air laut. Sayangnya, “Bali Magic Fuel” –sebutan Reuters untuk Minyak Indonesia Bersatu yang dipamerkan di konferensi perubahan iklim di Bali– penuh dengan misteri sehingga tak pelak kontroversi-pun merebak. Namun, tak sepenuhnya misteri jika kita bicara tentang energi dari lautan, karena telah banyak negara yang mengembangkannya, termasuk Indonesia. Lautan inilah blue energy yang sesungguhnya.

Laut, Gudang energi

Indonesia adalah negara maritim terbesar di dunia dengan dua per tiga luas wilayah atau sekitar 5,8 juta km2 berupa lautan terdiri dari sekitar 17.504 pulau yang dikelilingi oleh garis pantai sepanjang 81.000 km.

Laut bukanlah hanya sekedar air asin yang menjadi habitat beragam kekayaan hayati, namun ini adalah lautan energi. Air laut, dinamika air laut dan ruang diatas laut memiliki potensi energi luar biasa. Tidak seperti blue energy hasil inovasi Joko Suprapto yang mengklaim menggunakan “teknologi mata hati”, potensi energi samudera kita dapat dipanen dengan teknologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan telah terbukti aplikasinya.

Energi Kimia Air Laut

Yang pertama adalah potensi energi dalam struktur kimia air laut. Air laut terdiri dari ion-ion seperti Na+ dan Cl- yang menjadikan laut seperti baterai raksasa. Prinsipnya sederhana seperti halnya aki/baterai, air laut sebagai elektrolit masuk ke dalam tabung. Dengan memasukkan anoda dan katoda dari bahan tertentu dihasilkan reaksi yang menimbulkan tegangan.

J.R. Pahlano DAUD (Harian Komentar, 2005) menjelaskan sebuah percobaan sederhana, dua liter air laut sebagai elektrolit dialirkan ke rangkaian Grafit (anoda) dan Seng atau Zn (katoda) mampu menghasilkan tegangan 1,6 volt. Bahkan dengan air laut 400 liter, dan accu (aki) bekas 12 volt mampu menghasilkan 9,2-11,8 volt.

Berikutnya adalah energi akibat adanya perbedaan salinitas (tingkat kadar garam). Pada kondisi beda salinitas, berlaku prinsip termodinamika. Dua larutan dengan konsentrasi berbeda pada suhu tetap akan melepas sejumlah energi.

Muara sungai adalah lokasi terbaik. Di muara terjadi pertemuan antara air tawar dan air asin dengan perbedaan salinitas yang besar. Menurut Pahlano, secara teoritis percampuran antara 1 m3 air tawar dengan 1m3 air laut dapat melepas energi sebesar 2,24 MW. Sungai dengan debit sebesar 57 ribu m3/detik secara teoritis dapat menghasilkan 128 ribu MW. Jika hanya 10 persen dari aliran tersebut dimanfaatkan, maka dapat dipanen energi sebesar 1,28 MW.

Berikutnya adalah hidrogen (fuel cel) yang dapat di hasilkan dari elektrolisis H2O (komponen utama air laut). Sampai saat ini teknologi pemisahan Hidrogen dari air masih mahal dan membutuhkan energi yang besar. Hidrogen sendiri sebagai bahan bakar telah terbukti dan sangat bersih. Salah satu alternatif produksi hydrogen dari air laut adalah dengan memanfaatkan energi lainnya (energi matahari, energi gelombang, energi angin) yang juga dibangkitkan dari laut.

Energi Gerakan Dinamis Air Laut

Energi selanjutnya memanfaatkan dinamika gerakan air laut yaitu gelombang, pasang surut dan arus laut. Gelombang merupakan gerakan permukaan air laut akibat hembusan angina. Pasang surut air laut adalah gerakan naik turunnya permukaan air laut sebagai akibat gaya gravitasi bulan. Dan terakhir, arus laut adalah aliran air laut yang terjadi karena perbedaan suhu antar lautan, arus dengan kecepatan besar biasanya di selat.

Gelombang laut dapat dikonversi menjadi energi listrik dengan mengubah gerakan relatif naik turun permukaan laut menjadi gerakan untuk memutar turbin. Menurut Electric Power Research Institute, daerah samudera Indonesia sepanjang pantai selatan Jawa sampai Nusa Tenggara adalah lokasi yang memiliki potensi energi gelombang cukup besar berkisar antara 10 – 20 kW per meter gelombang. Bahkan beberapa penelitian menyimpulkan di beberapa titik bisa mencapai 70 kW/m.

Di luar negeri teknologi ini sudah mencapai tahap komersialisasi. Australia, Scotlandia, Amerika Serikat, Inggris, Jepang, Finlandia, dan Belanda adalah negara-negara yang serius mengembangkan teknologi konversi energi gelombang.

Bagaimana Indonesia? Pada tahun 2003, Zamrisyaf seorang karyawan PLN telah membuat Pembangkit Listrik Tenaga Gelombang (PLTGL) di bibir pantai padang dengan daya tiga kilowatt mampu menerangi 20 rumah di desa nelayan. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) juga telah mengembangkan PLTGL di pantai Parangracuk, Baron, DIY dan berhasil memperoleh daya sebesar 522 watt.

Pada tahun 2005, di di Pantai Tanjung Karang, Mataram, empat anak muda alumni beberapa universitas di Makassar dan Malang berhasil membuat PLTGL. Di Surabaya, Arief Suroso, seorang mahasiswa ITS Surabaya melakukan penelitian peningkatan daya pada sistem konversi energi gelombang laut jenis cavity resonator. Modifikasi bentuk tabung silinder yang dilakukan berhasil meningkatkan daya rata-rata sekitar 90%!

Potensi berikutnya adalah energi pasang surut. Di Indonesia daerah yang potensial adalah sebagian Pulau Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Papua, dan pantai selatan Pulau Jawa, karena pasang surutnya bisa mencapai enam meter. Untuk yang satu ini Indonesia masih ketinggalan. Perancis, Rusia dan Australia tercatat sebagai negara pioneer yang telah berhasil.

Pemanfaatan energi arus laut telah dirintis oleh Kementerian Ristek. Dibawah koordinasi Ristek, Indonesia menjalin kerjasama dengan Italy dan UNIDO dalam transfer teknologi pemanfaatan energi arus laut (Marine Current Energy/MCE) dengan konstruksi KOBOLD. Kerjasama ini ditandatangani akhir Mei 2006 di Jakarta. Prototype KOBOLD yang berada di Messina-Sicilia-Italy saat ini, dapat menghasilkan energi listrik sampai 300 KW.

Energi Perbedaan Panas
Perbedaan suhu air laut permukaan dengan suhu air pada kedalaman 1 km minimal 20 derajat celcius. Perbedaan suhu ini dapat dikonversi menjadi energi dengan siklus Rankine. Pemanfaatan energi ini dikenal juga dengan Ocean Thermal Energy Conversion (OTEC). Prinsipnya cukup sederhana, fluida akan mengalir jika terjadi perbedaan suhu, dan aliran ini dimanfaatkan menggerakkan turbin.

Terletak di daerah tropis, Indonesia sangat cocok memanfaatkan teknologi ini. Lokasi ideal pada daerah antara 6- 9° lintang selatan dan 104-109° bujur timur. Di lokasi ini pada jarak kurang dari 20 km dari pantai didapatkan suhu rata-rata permukaan laut di atas 28°C dengan perbedaan suhu permukaan dan kedalaman laut (1.000 m) sebesar 22,8°C. Menurut Harsono Soepardjo (Kompas, 2003), potensi termal mencapai 2,5 x 1023 joule. Ilustrasi sederhana, jika efisiensi konversi energi panas laut sebesar tiga persen maka Indonesia dapat memanen daya sekitar 240.000 MW.

Perkembangan teknologi konversi energi panas laut di Indonesia baru pada tahap penelitian. Sebuah pilot plant dengan jenis konversi energi panas laut landasan darat dan dengan kapasitas 100 kW dibangun di Bali Utara. Negara-negara yang telah lama mengembangkan teknologi ini antara lain Jepang di kepulauan Nauru dan Amerika di Hawaii dengan kapasitas daya mencapai 1 MW.

Potensi Energi di Atas Permukaan
Permukaan laut yang luas tanpa penghalang dan hembusan angin yang kuat merupakan potensi yang baik bagi pemanfaatan energi surya dan angin. Untuk berladang energi di permukaan laut, Indonesia masih tertinggal jauh.

Negara-negara eropa, Amerika dan Jepang telah lama memanfaatkan ruang di permukaan laut sebagai lokasi pembangkit listrik tenaga angin dan matahari. Sedangkan di Indonesia pemanfaatannya masih terbatas untuk sirkulasi air di kerambah/tambak dengan menggunakan kincir angin.

Berkah Dalam Kesulitan

Naiknya harga minyak sampai 141 US$ saat ini adalah berkah tersendiri bagi pengembangan ”blue energy”. Pemanfaatan potensi energi non fosil selama ini terkendala daya saing ekonomis yang rendah terhadap energi fosil. Apalagi dengan adanya mekanisme subsidi, sulit bagi energi non konvensional untuk bersaing.

Momentum “krisis” harga energi fosil seharusnya dapat dimanfaatkan untuk mulai berkomitmen mengembangkan energi alternatif secara sungguh-sungguh. Sejarah mencatat, Brazil berhasil mengembangkan bioethanol dan menjadi produsen terbesar dunia dengan biaya yang rendah. Brazil yang sangat tergantung minyak impor, pada tahun 1970-an memanfaatkan momentum krisis minyak dunia untuk mengembangkan secara serius bahan bakar alternatif, bioethanol.

Walaupun demikian, akal sehat tetap harus dikedepankan. Jangan sampai kebingungan mengarahkan pada solusi-solusi irasional. Sebut saja sebagai contoh, kasus pencarian harta karun di situs batu tulis bogor untuk menutup hutang luar negeri. Atau fenomena Ahmad Zaini Suparta yang mengklaim memiliki ribuan trilliun rupiah. Dan terakhir tentunya fenomena kontroversi ”blue energy” dari air laut dengan ”teknologi mata hati”.

Alih-alih menghabiskan energi dan waktu dalam kontroversi ”the Bali Magic Fuel”/Minyak Indonesia Bersatu/atau apalah namanya...., toh sejarah akan membuktikan dengan sendirinya. Lebih baik kita rasional saja. Mari kita kembangkan energi dari lautan, inilah ”blue energy” sesungguhnya....

-Awang Riyadi-
Sumber:http://www.energiterbarukan.net

Saturday, July 19, 2008

Apa Itu Bio Energy Power ?


Bio Energy Power
adalah kombinasi OLAH ENERGI & OLAH GERAK yang khusus dirancang berdasarkan teori medis dengan tujuan membangkitkan / mengoptimalkan kemampuan tubuh dalam mengobati diri sendiri baik fisik maupun psikis yang oleh dunia kedokteran disebut Autotherapy.

Olah energi Bio Energy Power akan melipatgandakan besaran energi di dalam tubuh kita, sedangkan olah gerak Bio Energy Power akan memposisikan energi yang besar tersebut di bagian – bagian tubuh tertentu yang pada akhirnya membangkitkan kemampuan autotherapy.

Bio Energy Power tidak hanya baik untuk diilakukan oleh mereka yang sehat, akan tetapi sangat baik untuk dilakukan oleh mereka yang sedang sakit, karena: Bio Energy Power sinergis dan sangat mendukung pengobatan medis.
Pola hidup sebagai sumber penyakit

Selain faktor genetik, pola hidup adalah penyebab utama kita sakit. Adapun yang dimaksud dengan pola hidup adalah terdiri dari :

1. POLA PIKIR.
2. POLA MAKAN & MINUM.
3. POLA NAPAS.

POLA PIKIR.
Pola pikir yang negatif memiliki andil terbesar yang menyebabkan kita sakit, karena dengan pola pikir yang negatif maka energi yang dipakai menjadi sangat besar sehingga kebutuhan organ akan energi tidak tercukupi, dan pada akhirnya akan menyebabkan organ tubuh kita bekerja dengan beban yang sangat berat.
Banyak buku yang beredar dan hampir semua buku tentang pola pikir mengajarkan kita untuk berpikir postif (positive thinking), bahkan ada juga buku yang mengajarkan kita untuk memanfaatkan kekuatan berpikir positif dalam meraih keberhasilan.
Saya berpendapat pola pikir positif saja tidaklah cukup untuk saat ini, dimana selain pola pikir yang positif kitapun dituntut untuk mampu membatasi pola pikir kita agar kita tidak terjerumus ke hari esok yang masih menjadi rahasia Tuhan dan hari kemarin yang sudah menjadi urusan Tuhan.

• Berdosalah manusia yang pada hari ini hidupnya memikirkan hari esok.
• Merugilah manusia yang pada hari ini hidupnya memikirkan hari kemaren.
• Berbahagialah manusia yang pada hari ini mampu mensyukuri nik’mat dari
Tuhan dan memanfaatkan hari ini dengan sebaik – baiknya.
Cara mudah agar kita mampu mensyukuri nik’mat Tuhan dan memanfaatkan hari ini dengan sebaik – baiknya adalah :
PLAN YOUR WORK & WORK YOUR PLAN
Rencanakan segala aktifitas kita hari ini & kerjakan rencana kita hari ini sebaik – baiknya, kita tidak hanya akan tambah sehat, tapi juga akan bertambah bahagia.
CATATAN :
Rencana hanya bisa dinamakan rencana apabila kita menulisnya di atas kertas, adapun rencana yang kita simpan di pikiran kita bukanlah rencana tapi hanyalah angan – angan.

POLA MAKAN.
Pola makan mencakup 3 (tiga) hal, yaitu :
1. Apa yang kita makan.
2. Kapan kita makan.
3. Bagaimana cara kita makan.

1. APA YANG KITA MAKAN.
Pedoman makanan apa yang baik untuk kita makan adalah yang memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. Pada dasarnya tidak ada makanan yang perlu dipantang (terkecuali babi bagi orang Muslim), yang harus dihindari adalah TERLALU (terlalu banyak / terlalu sedikit), jadi makanlah untuk hidup (secukupnya) jangan hidup untuk makan (berlebihan).
2. KAPAN KITA MAKAN.
Frekuensi makan yang terbaik adalah 2 kali dalam sehari, dan waktu yang baik adalah pada pagi & sore hari. Dianjurkan, di pagi hari antara jam 09.00 - 10.00 kita MAKAN (bukan sarapan) secukupnya agar kebutuhan kalori untuk beraktifitas di siang hari dapat dipenuhi dengan baik. Sore hari kita makan lagi antara jam 16.00 - 18.00. Usahakan, jam 18.00 adalah waktu terakhir kita makan.
Dengan waktu makan terakhir kita di sore hari akan memungkinkan makanan dicerna dengan sempurna oleh tubuh kita, sehingga pada saat kita tidur kerja lambung kita tidak membebani proses recovery, sehingga proses recovery akan menjadi lebih sempurna dan tidak akan terjadi penimbunan lemak di perut kita.
Seandainya diantara atau diluar 2 waktu makan tersebut kita merasa lapar, dianjurkan untuk mengkonsumsi buah buahan yang mudah dicerna, seperti, semangka. apel, pepaya dan lain lain
3. BAGAIMANA CARA MAKAN.
Masih ingatkah kita, sewaktu kecil kita diharuskan menelan makanan setelah kita mengunyahnya minimal 30 kali ?
Ternyata alasan orang tua kita menyuruh kita mengunyah makanan minimal 30 kali adalah sbb :
Semakin lembut kita kunyah makanan kita sebelum kita telan, maka akan semakin ringan beban kerja lambung kita dan semakin baik pula kerja enzime di dalam lambung dalam membuang zat - zat yang tidak berguna/berlebihan bagi tubuh kita.
Suatu kenyataan, saat ini kita hanya mampu bertahan mengunyah makanan kita hanya sampai maksimal 10 kali kunyah dan sudah langsung kita telan, dan ini menyebabkan lambung bekerja dgn berat dan kemampuan enzime dalam memilah milah zat yang berguna bagi tubuh kita menjadi kurang sempurna.

POLA MINUM.
Pada dasarnya 70% dari berat badan kita adalah cairan yang berfungsi sebagai pengantar zat - zat yang berguna keseluruh tubuh kita, kekurangan cairan (dehidrasi) akan sangat berbahaya dan dapat merusak organ tubuh kita. Air berfungsi juga sebagai media pembuangan racun dari dalam tubuh (berupa urine, keringat) dimana melalui urine dan keringat, limbah dari tubuh kita dibuang.
Air yang sangat baik untuk kita minum adalah air biasa yang telah kita rebus (bukan air es dan bukan pula air panas), dengan pola minum yang terbaik adalah sebagai berikut :
1. Pagi sesaat kita bangun tidur, sebelum kita kekamar mandi minum 2 gelas.
2. Pagi sebelum kita makan pagi minum 1 gelas.
3. Siang sampai sore sebelum kita makan usahakan kita minum minimal 4 gelas.
4. Sesaat setelah kita makan sore minum 1 gelas.
5. Malam jauh sebelum kita tidur minum 1 gelas .
6. Sebelum kita tidur minum 1 gelas.
Latihan Bio Energy Power disertai pola makan dan minum seperti tersebut diatas akan membuat anda tidak akan mudah merasa lelah, tidak mudah sakit dan bahkan sembuh dari sakit yang sedang diderita.
Pola makan & minum seperti tersebut diatas bagi sebagaian orang pada awalnya akan terasa menyiksa (pagi mencret, dan tidur malam terganggu karena buang air kecil) tapi percayalah gangguan tersebut tidak akan lebih dari seminggu dan selanjutnya anda akan terkejut atas KESEMPURNAAN KITA sebagai mahluk ciptaan TUHAN.

POLA NAPAS.
Pola napas yang baik tidak hanya mampu melipat gandakan produksi energi didalam tubuh kita, tetapi bila disertai gerakan (jurus – jurus) yang tepat, maka energi yang besar tersebut akan memiliki efek pengobatan atau mampu meningkatkan kemampuan tubuh dalam mengobati dirinya sendiri (AUTOTHERAPY), selain manfaat– manfaat lainya.
Bagi paktisi Bio Energy Power, selain latihan jurus dengan rutin, lakukan pernapasan Bio Energy Power sesering mungkin, sedang apapun kegiatan kita. ( sedan bekerja di computer, sedang mengemudi dll ).
Bagi mereka yang belum menjadi praktisi Bio Ennergy Power untuk mengetahui POLA NAPAS yang baik, mari bergabung bersama kami menjadi praktisi Bio Energy Power

sumber:www.bioenergypower.com

Wednesday, July 16, 2008

Indonesia: Work weekends to save energy

By NINIEK KARMINI
JAKARTA, Indonesia - Indonesian manufacturers are being told to move some of their production work to the weekends as part of a new energy-saving plan, the government announced Thursday, as the capital prepared for two weeks of blackouts because of power shortages.

The government decree aims to increase the amount of power available for commercial centers around Java island, where chronic outages have hurt production and led to protests by Japanese companies, which say they have lost millions of dollars.

Electricity consumption declines on weekends because most offices and other businesses are closed, said the secretary general of the Industry Ministry, Agus Tjahjana. The regulation, which goes into effect in October, will not affect industries that operate 24 hours a day, such as petrochemical companies, he said.

The measure will save energy because utility companies are less efficient at generating electricity at peak demand.

Manufacturers that do not comply could face temporary power cuts, Tjahjana said.

Parts of Indonesia, the world's fourth most populous country with 235 million people, regularly experience blackouts, usually because electricity demand outweighs supply.

There will be forced power cuts in the capital, Jakarta, and in the nearby industrial city of Tangerang over the next two weeks due to a disruption in gas supplies to two plants that provide electricity for the region.

Business associations, including the Indonesian Chamber of Commerce and Industry, and other ministries are backing the decree in the hope that current planned blackouts will cease.

The government said the decree is to be signed at the end of July.

The planned work schedule changes could involve about 20 million people.
Copyright 2008 The Associated Press. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.

sumber:www.cnbc.com

Tuesday, July 15, 2008

Tips Hemat Energi

1. AC
Manfaatkan fitur night set back atau economy mode saat tidur. Fitur ini akan meringankan kerja C secara perlahan tanpa mengurangi kenyamanan dan lebih hemat listrik. Bisa juga dengan mengatur waktu operasi AC, dan AC akan berhenti bekerja pada waktu yang telah diatur di mana suhu kamar pun sudah cukup dingin untuk memberi kenyamanan saat tidur.
Mengatur temperatur agar tidak terlalu dingin. Hal ini akan mengurangi pemakaian listrik karena kerja AC menjadi lebih ringan.

Aturlah fan operation mode pada setting auto. Dengan demikian, jika suhu yang diinginkan sudah tercapai, maka secara otomatis akan mengurangi kerja fan. Jika diatur pada posisi high, akan menyebabkan AC bekerja dengan kecepatan tinggi sepanjang waktu.
Pastikan instalasi AC dalam posisi benar dan baik. Pasalnya, kesalahan instalasi dapat menyebabkan pemborosan energi dan kerja AC menjadi tidak maksimal.
AC dicuci minimal 3 bulan sekali agar tidak bau dan mengurangi terjadinya korosi. Apabila korosi terjadi di bagian evaporator, maka proses pendinginan tidak berjalan sempurna dan ujung-ujungnya akan membutuhkan energi yang lebih banyak sehingga semakin boros.

2. Microwave
Gunakan semacam stabilizer untuk proses on dan off dibandingkan menghubungkan serta mencabut kabel secara langsung. Hal tersebut berpengaruh langsung pada kondisi microwave, di mana berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, apabila menggunakan stabilizer akan lebih menjadikan microwave lebih tahan lama.

3. Kulkas
Hindari membuka-tutup lemari es terlalu sering agar udara dingin tidak keluar. Jika udara dingin keluar, kompresor akan bekerja keras lagi untuk menghasilkan suhu yang diinginkan dan hal ini membutuhkan energi yang juga besar.
Jangan mengisi lemari es terlalu banyak, karena akan menghambat proses pendinginan. Kompresor pun perlu bekerja keras untuk mendapatkan suhu normal.

5. Lampu
Matikan lampu saat tidak digunakan.
Gunakan lampu hemat energi.

4. Kabel listrik
Mencabut kabel listrik dari saklar. Walaupun perangkat sudah dimatikan, jika kabel masih tersambung maka akan terus dalam kondisi stand by, sehingga sama halnya dengan mengonsumsi listrik. Hal ini berlaku untuk perangkat TV, microwave, blender, dll.

SUMBER: http://kumpulantipspilihan.blogspot.com

Saturday, July 12, 2008

Contingency Plans in Place to Cushion Oil Shock

We cannot overestimate the importance of energy, especially as 96 percent of South Korea's energy supply comes from imports. As crude oil prices approach $150 per barrel, the government announced a series of energy conservation measures Sunday. The steps include compelling civil servants to refrain from diving their vehicles every other day from July 15.

It is timely to initiate the first of four stages of contingency plans, which were originally to take effect after oil prices exceed $150 per barrel. Last week, the price of Dubai crude, the main source of South Korea's oil imports, hit a record high of $140.70 per barrel, a two-fold increase from last year's average price. The government recognizes that the country has virtually entered a third oil shock.

Announcing the energy saving measures, Prime Minister Han Seung-soo said that the central and local governments and the public sector will take the lead in cushioning the oil shock. One of the steps is to make a 30-percent cut in the use of automobiles owned by the state, provincial and municipal authorities and public agencies. The measures also call for half of 15,300 public-owned vehicles to be replaced by smaller fuel-effective ones, or hybrid models alternatively using electricity and gasoline or diesel, by 2012.

The Lee Myung-bak administration is heading in the right direction for early activation of the energy conservation packages in order to head off the looming oil crisis. It seems to be only a matter of time before oil prices will enter the uncharted territory of $150 per barrel. If the prices continue their upward march, they might breach the $170-level by the end of this year. In this case, the government plans to set in motion the second stage of its contingency plans.

The government recommended the private sector take voluntary energy conservation steps. The voluntary action includes no driving of privately-owned vehicles once a week, expansion of car pools for commuters, early closing hours of entertainment facilities and refraining from lighting neon signs. However, policymakers will turn these recommendations into mandatory ones if oil sees further price hikes.

What's more important is that businesses and households should double their efforts to save energy because they account for approximately 96 percent of the nation's total energy consumption. Companies and households are required to follow minimum air-conditioning temperatures set at 26 degrees Celsius in summertime with maximum room temperatures not to exceed 20 degrees in wintertime. It is disappointing that the operation of private vehicles shows little sign of abating despite skyrocketing fuel prices.

South Korea is one of the world's top 10 energy-consuming countries. Furthermore, it is accused of low energy efficiency. That is, Koreans are wasting energy. Regrettably, the country has failed to take sufficient measures to boost the efficient use of energy since the first and second oil shock. First of all, it has to establish an energy-efficient economic structure so that the government, businesses and households can ride out the third oil shock.

Also, the country ought to concentrate on tapping renewable energy sources such as wind and solar power. It should spare no efforts to strengthen diplomacy to secure a stable energy supply. It is tim
Sumber :www.koreatimes.co.kr

Saturday, July 5, 2008

Top Tips — Easy Actions to Save Energy



Action 1: Install low energy light bulbs.

Identify the rooms in your community building (wherever your group, club or society meets), that use most energy and install low energy light bulbs in them. Begin replacing the other inefficient bulbs with low energy ones when they expire.

Benefit: Energy efficient light bulbs last 12 times longer (up to 8 years!) and each can save you up to £10 a year. Community groups and clubs can save £100s a year this way.

Information: See what energy efficient bulbs are available at your local DIY store.



Action 2: Appoint an energy ‘champion’.

Appoint an energy champion in your group, club or society to remind people who use the building to turn off lights when rooms are not being used and switch off any computers, printers, kettles and photocopiers. Leaving equipment on standby still uses about two thirds of the energy it uses when turned on!

Benefit: Britons waste the equivalent of two power stations worth of electricity each year by leaving gadgets on standby. Gadgets left on standby or left on charge squander over £740 million worth of energy and result in over four million tonnes of excess carbon dioxide each year. This makes a significant contribution to climate change.

Information: Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.



Action 3: Hold an awareness session.

Hold an energy awareness meeting, quiz or fun-day and invite wider members of your group/club plus friends and families. Invite a speaker from your local energy advice centre or your local council's energy team to come and talk to your group about what more can be done.

Benefit: If everyone boiled only the water they needed to make a cup of tea instead of filling the kettle every time, we could save enough electricity to run practically all the street lighting in the country.

Our pollution from using energy is changing our climate. The ten warmest years on record have all been since 1990. 1995 saw the hottest days in 225 years of daily measurements!

Information: Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.
Contact your local council’s energy officer. Find your council.

Your local council's energy efficiency officer or your building's energy supplier might be able to help with energy efficiency posters or freebies.




Action 4: Discuss alternative energy options for your community building.

Create a special display, poster or newsletter for your members to tell everyone about the exciting ways you could make your own free energy by installing a solar panel or mini wind turbine on the roof of your community building or meeting place.

Benefit: Installing a solar electricity panel on the roof will save eight tonnes of carbon dioxide pollution over its lifetime. That’s enough to fill 48 double-decker buses!

Information: Solar panels or mini wind turbines provide you with free energy once they are paid for and could even raise money for your group or club by selling spare energy to energy companies.

Remember you need to ask permission from whoever owns your community building or meeting place.

For information about grants for solar panels, mini wind turbines and other green energy equipment, look up the Low Carbon Buildings Programme.

Find out more about green energy equipment for your building, from the Energy Saving Trust.



Action 5: Turn hot water thermostats down.

Check that thermostats for hot water in your community building or meeting place are turned down to a comfortable temperature.

Benefit: The Health and Safety Executive recommend that buildings used by children and vulnerable people should heat water for hand washing to a temperature of 41º. So as well as saving money this action is also a safety consideration.

Information: Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.




Action 6: Turn heating thermostats down.

Check that thermostats for heating your community building or meeting place are sited out of draughts, are away from either hot or cold spots and turned down to below 21º.

Benefit: Turning a thermostat down by 1º could save you up to 6% on your community building’s heating bills.

Information: Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.




Action 7: Keep radiators clear.

Keep radiators in your community building or meeting place clear - don't block them with furniture.

Benefit: Blocking radiators will reduce efficiency and increase your heating bills.

Information: Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.






Action 8: Put reflective panels behind radiators.
Put reflective panels behind the radiators which are on outside walls — this will reduce heat loss.

Benefit: The cost of fitting reflective foil behind radiators will pay for itself in a year.

Information: See what is available at your local DIY store

Back to top
Action 9: Insulating your hot water tank
Put an insulating jacket around the hot water tank in your community building.

Benefit: Fitting a thick hot water tank jacket can cut heat loss by up to 75% from your hot water tank. An insulating jacket will pay for itself in a year and will save you money!

Information: Insulating jackets for hot water tanks are available from most DIY stores.

If you already have a jacket which is less than 75mm thick, fit another one around it or replace it completely.




Action 10: Eliminate draughts
If your community building or meeting place has extremely draughty and poorly fitted single glazed windows or doors draught proof them with insulation strips. (If you have an open fire, gas fire or boiler with a flue in the room you need to keep ventilation open so get expert advice first.)

Benefit: This is a inexpensive way to reduce the energy bills of your community building / meeting place.

Information:

* See what is available at your local DIY store.
* Find out more at the Energy Saving Trust's website.
* The Draught Proofing Association can help you find a trained installer.




Action 11: Install secondary double-glazing.

If your community building or meeting place has extremely draughty and poorly fitted single glazed windows and your community group, club or society can afford it, install light weight secondary double-glazing.

Benefit: Secondary double-glazing is cheaper to install than replacement windows and still helps save energy.

Information: You will need permission from whoever owns your community building or meeting place.

Your local DIY stores should have secondary glazing kits. Secondary glazing is generally cheaper than fitting replacement windows. You can buy DIY kits with either aluminium or plastic frames fitted with draught proofing strips. You can choose hinged or sliding panes, which are easy to open, close and clean.

Find your local energy advice centre and ask them for energy saving ideas and features for your community group. Find your local energy advice centre.
Back to top
Action 12: Make your own free, clean and green energy.

Make your own free electricity and hot water by installing green energy equipment such as a solar panel or a mini wind turbine on your community building / meeting place. Grants are available from the Low Carbon Buildings Programme or you could hold a special fund-raising event.

Benefit: Installing a roof-top mini wind turbine will save around one tonne of carbon dioxide pollution per year or 20 tonnes over its lifetime. That's enough to fill 120 double decker buses!

Information: Solar panels or mini wind turbines provide you with free energy once they are paid for and could even raise money for your group or club by selling spare energy to energy companies.

Remember you need to ask permission from whoever owns your community building or meeting place.

For information about solar panels, mini wind turbines and grants for these and other green energy equipment, look up the Low Carbon Buildings Programme.

Why not have a raffle or sponsored event to raise money for your group or club's very own solar panel or mini wind turbine?




Action 13: Work out how much CO2 your building produces.

Use your community building's gas and electricity bills to work out how much carbon dioxide pollution your community building or meeting place is producing and set a target to reduce your energy bills! It's easy to do.

Benefit: Carbon dioxide pollution causes climate change. Every unit or kilowatt hour (kwh) of electricity on your community building's bill produces 430 grammes of carbon dioxide pollution. That's enough to fill 43 party balloons!

Information: Just look up your energy bills for the last quarter or the last year and get yourself a calculator.

Multiply the total number of units (or kwhs) of electricity used by 430. The answer will tell you the total number of grammes of carbon dioxide pollution. Divide the answer by 1,000,000 to get the number of tonnes of carbon dioxide.

For gas, multiply the total number of gas units used (or kwhs) by 190. This will tell you the total number of grammes of carbon dioxide pollution. Divide the answer by 1,000,000 to get the number of tonnes of carbon dioxide.

What do your results mean?

Every tonne (1 million grammes) of carbon dioxide can fill six double decker buses or one hot air balloon measuring 10 metres wide!
Report back the results to your group or club.



Action 14: Soak up and balance out your building's CO2.

Decide as a group, club or society to buy energy saving equipment which can soak up or just balance out the same amount of carbon dioxide pollution caused by your community building's use of electricity or gas (if your building is not already on a green energy tariff)

Benefit: Some figures suggest that planting 15 small tree saplings will soak up 1 tonne of carbon dioxide as they grow over their lifetime (100 years). That makes up for enough carbon dioxide pollution to fill six double decker buses.

Information: Don't forget, saving energy in the first place is better than soaking up or balancing out the carbon dioxide pollution which has already been made.

Make up for your energy bill's carbon dioxide pollution with these green items:

* Swapping a normal 100 watt light bulb with a 20 watt energy saving light bulb will save around 270 grammes of carbon dioxide over its lifetime (8 years) but will produce the same amount of light.
* Some figures suggest that planting 15 small tree saplings locally will soak up 1 tonne of carbon dioxide as they grow over their lifetime (100 years). It could also make your area cleaner and greener.
* Installing a solar electricity panel on your roof will save 8 tonnes (8,000,000 grammes) of carbon dioxide over its lifetime.
* Installing a roof-top mini wind turbine will save around 1 tonne (1,000,000 grammes) of carbon dioxide per year or 20 tonnes over its lifetime.

For information about solar panels, mini wind turbines and grants for these and other green energy equipment, look up the Low Carbon Buildings Programme.

You can find energy saving light bulbs at your local DIY store.

Find native tree saplings at your local garden centre or go to Tree Appeal to buy trees which are planted elsewhere on your group or club’s behalf.

by:www.everyactioncounts.org.uk
Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.